Suvi Wahyudianto
sesaat setelah pertunjukan usai., 2026
Kertas amplas, cat akrilik
40 x 52 cm
'Pada project paper kali ini, saya mencoba mengeksplorasi medium kertas amplas, kertas bertekstur yang digunakan untuk menghaluskan atau menghilangkan jejak. Saya memilih medium ini berkaitan dengan objek yang saya lukis:...
"Pada project paper kali ini, saya mencoba mengeksplorasi medium kertas amplas, kertas bertekstur yang digunakan untuk menghaluskan atau menghilangkan jejak. Saya memilih medium ini berkaitan dengan objek yang saya lukis: ruang liminal bioskop sesaat setelah pertunjukan usai, ketika kursi-kursi menjadi kosong; serta Timur Laut, anjing peliharaan saya yang setia menyambut kedatangan dan segala kenangannya. Seperti kertas amplas, semuanya akan menjadi halus, dan waktu menentukan jalan takdirnya masing-masing. Karya ini berawal dari sebuah potret yang diambil setelah selesai menonton pertunjukan di bioskop. Ruang liminal setelah film berakhir, ketika bangku-bangku kosong dan suasana mulai sunyi, menjadi momen yang menarik perhatian. Ada sesuatu yang tertinggal setelah pertunjukan—perasaan tertawa, bahagia, senang, dan haru yang masih terbawa setelah meninggalkan ruang tersebut.
Bioskop menjadi ruang tempat kita membeli kesempatan untuk menyaksikan pertunjukan kehidupan melalui adegan-adegan film dan sejenak memasukinya. Namun, pada akhirnya kita harus kembali ke rumah masing-masing, kembali pada realitas kehidupan. Ruangan itu kemudian menjadi senyap dan sepi, sementara lampu mulai dimatikan.
This work began as a portrait taken after watching a film at the cinema. The liminal space after the film ended, when the seats were empty and the room began to fall silent, became the moment that caught attention. Something lingered after the screening—the feelings of laughter, happiness, joy, and emotion that remained even after leaving the space.
The cinema becomes a place where we buy the opportunity to witness a performance of life through the scenes of a film and, for a moment, enter into it. But eventually, we must return to our respective homes, back to the reality of our lives. The room then becomes silent and empty as the lights begin to turn off."
Bioskop menjadi ruang tempat kita membeli kesempatan untuk menyaksikan pertunjukan kehidupan melalui adegan-adegan film dan sejenak memasukinya. Namun, pada akhirnya kita harus kembali ke rumah masing-masing, kembali pada realitas kehidupan. Ruangan itu kemudian menjadi senyap dan sepi, sementara lampu mulai dimatikan.
This work began as a portrait taken after watching a film at the cinema. The liminal space after the film ended, when the seats were empty and the room began to fall silent, became the moment that caught attention. Something lingered after the screening—the feelings of laughter, happiness, joy, and emotion that remained even after leaving the space.
The cinema becomes a place where we buy the opportunity to witness a performance of life through the scenes of a film and, for a moment, enter into it. But eventually, we must return to our respective homes, back to the reality of our lives. The room then becomes silent and empty as the lights begin to turn off."