Dabi Arnasa Indonesian, b. 1997
Flowing Life With The River, 2025
Acrylic, paper collage on shaped canvas
180 x 180 cm
Karya saya merupakan rekonstruksi fragmen-fragmen memori tentang hubungan alam dan manusia. Memori-memori ini disusun, dibentuk dan ditransformasikan untuk menjadi sebuah dunia imajinatif yang saya sebut “Semesta Kecil”. Karya ini berjudul...
Karya saya merupakan rekonstruksi fragmen-fragmen memori tentang hubungan alam dan manusia. Memori-memori
ini disusun, dibentuk dan ditransformasikan untuk menjadi sebuah dunia imajinatif yang saya sebut “Semesta Kecil”.
Karya ini berjudul “Flowing Life With The River” ini merupakan kontruksi ulang memori tentang air. Karya ini juga
terinspirasi dari sumbu filosofis Yogyakarta yg merupakan sebuah garis imajiner yang menghubungkan gunung Merapi
dan laut selatan. Dengan pengamatan sederhana lalu menemukan bahwa sungai bisa dijadikan representasi nyata dari
garis penghubung tersubut.
Air sungai yang mengalir dari hulu menjadi saksi perjuangan manusia dengan kehidupannya, lalu sampai hilir di lautan
yang kemudian menguap untuk memulai siklusnya lagi. Ini saya representasikan dengan garis biru meliuk-liuk melewati
objek-objek riuh yang saling bertumpukan, tersusuan diantara alirannya diantaranya ada figur-figur manusia beserta
adegannya masing-masing.
Tekhnik kolase kertas ini juga menjadi bagian dari konsep bagaimana potongan² gambar itu di potong, disusun ,
direspon kembali seperti rekonstruksi memori.
Proses air mengalir ini menjadi penanda bahwa kehidupan terus berjalan, sebuah siklus internal yang tak terpisahkan
dari siklus alam. Dari Rekonstruksi memori ini, menguatkan kesadaran bahwa air memiliki peran penting secara makna
filosofis maupun fungsi praktisnya dalam kehidupan
ini disusun, dibentuk dan ditransformasikan untuk menjadi sebuah dunia imajinatif yang saya sebut “Semesta Kecil”.
Karya ini berjudul “Flowing Life With The River” ini merupakan kontruksi ulang memori tentang air. Karya ini juga
terinspirasi dari sumbu filosofis Yogyakarta yg merupakan sebuah garis imajiner yang menghubungkan gunung Merapi
dan laut selatan. Dengan pengamatan sederhana lalu menemukan bahwa sungai bisa dijadikan representasi nyata dari
garis penghubung tersubut.
Air sungai yang mengalir dari hulu menjadi saksi perjuangan manusia dengan kehidupannya, lalu sampai hilir di lautan
yang kemudian menguap untuk memulai siklusnya lagi. Ini saya representasikan dengan garis biru meliuk-liuk melewati
objek-objek riuh yang saling bertumpukan, tersusuan diantara alirannya diantaranya ada figur-figur manusia beserta
adegannya masing-masing.
Tekhnik kolase kertas ini juga menjadi bagian dari konsep bagaimana potongan² gambar itu di potong, disusun ,
direspon kembali seperti rekonstruksi memori.
Proses air mengalir ini menjadi penanda bahwa kehidupan terus berjalan, sebuah siklus internal yang tak terpisahkan
dari siklus alam. Dari Rekonstruksi memori ini, menguatkan kesadaran bahwa air memiliki peran penting secara makna
filosofis maupun fungsi praktisnya dalam kehidupan