Zikry Rediansyah Indonesian, b. 1992
Dancing in the Yard, 2026
Acrylic on canvas
80 x 60 cm
Bercinta dilakukan pada malam hari, ketika dunia perlahan menjadi sunyi. Sementara itu, kekerasan dapat berlangsung di siang bolong, di tengah kehidupan yang terbuka dan disaksikan banyak orang. Pertentangan antara keduanya...
Bercinta dilakukan pada malam hari, ketika dunia perlahan menjadi sunyi. Sementara itu,
kekerasan dapat berlangsung di siang bolong, di tengah kehidupan yang terbuka dan
disaksikan banyak orang. Pertentangan antara keduanya menjadi titik berangkat karya ini:
mengapa keintiman membutuhkan ruang yang tersembunyi, sementara kekerasan justru
dapat hadir secara terang-terangan disiang bolong?
Kegelisahan ini terasa semakin nyata ketika melihat bagaimana kekerasan hari ini tidak lagi
tersembunyi. Peperangan, kehancuran, dan penderitaan disiarkan secara langsung, direkam
dari berbagai sudut, dibagikan berulang-ulang lewat layar yang sama yang kita gunakan
untuk hal-hal sehari-hari. Kita menyaksikannya bukan sebagai sesuatu yang jauh, tetapi
sebagai sesuatu yang terus-menerus hadir, hampir menjadi pemandangan yang biasa dilihat
sebelum tidur. Ada keterbukaan yang mengerikan pada kekerasan zaman ini: ia tidak butuh
ruang privat untuk terjadi, ia justru berkembang di ruang paling terbuka.
Lukisan ini menempatkan dua tubuh yang berdansa di malam hari sebagai kontras dari
kondisi tersebut: sebuah upaya kecil untuk mempertahankan kebahagiaan, di tengah zaman
ketika kekerasan justru menjadi hal yang paling mudah disaksikan bersama.
kekerasan dapat berlangsung di siang bolong, di tengah kehidupan yang terbuka dan
disaksikan banyak orang. Pertentangan antara keduanya menjadi titik berangkat karya ini:
mengapa keintiman membutuhkan ruang yang tersembunyi, sementara kekerasan justru
dapat hadir secara terang-terangan disiang bolong?
Kegelisahan ini terasa semakin nyata ketika melihat bagaimana kekerasan hari ini tidak lagi
tersembunyi. Peperangan, kehancuran, dan penderitaan disiarkan secara langsung, direkam
dari berbagai sudut, dibagikan berulang-ulang lewat layar yang sama yang kita gunakan
untuk hal-hal sehari-hari. Kita menyaksikannya bukan sebagai sesuatu yang jauh, tetapi
sebagai sesuatu yang terus-menerus hadir, hampir menjadi pemandangan yang biasa dilihat
sebelum tidur. Ada keterbukaan yang mengerikan pada kekerasan zaman ini: ia tidak butuh
ruang privat untuk terjadi, ia justru berkembang di ruang paling terbuka.
Lukisan ini menempatkan dua tubuh yang berdansa di malam hari sebagai kontras dari
kondisi tersebut: sebuah upaya kecil untuk mempertahankan kebahagiaan, di tengah zaman
ketika kekerasan justru menjadi hal yang paling mudah disaksikan bersama.