Zikry Rediansyah Indonesian, b. 1992
Still Love Tank , 2026
Acrylic on canvas
60 x 80 cm
Karya ini berangkat dari Love Tank karya S. Teddy Darmawan yang mempertemukan simbol kekerasan dan perang dengan gagasan cinta dan kedamaian. Pertemuan tersebut menjadi titik awal untuk melihat kembali hubungan...
Karya ini berangkat dari Love Tank karya S. Teddy Darmawan yang mempertemukan simbol
kekerasan dan perang dengan gagasan cinta dan kedamaian. Pertemuan tersebut menjadi
titik awal untuk melihat kembali hubungan antara kekuasaan dan kehidupan dalam konteks
Indonesia hari ini.
Berawal dari kegelisahan terhadap semakin dekatnya militerisme dengan kehidupan sehari-
hari. Ia tidak lagi hanya hadir sebagai sesuatu yang berada di luar ruang sipil, tetapi perlahan
menjadi bagian dari lanskap keseharian.
Dalam membaca keadaan tersebut, saya melihat kembali Love Tank karya S. Teddy
Darmawan. Tank dalam karya S. Teddy menjadi sebuah citra yang kuat bagi saya—sebuah
bentuk yang membawa ingatan tentang perang, kekuasaan, dan kekerasan, namun
dihadirkan melalui bahasa visual yang dekat dengan cinta dan keindahan. Citra tersebut
kemudian saya pinjam, bukan untuk mengulang makna Love Tank, melainkan untuk
membawanya ke dalam pengalaman dan kenyataan yang saya rasakan hari ini.
Tank menjadi bahasa pinjaman untuk membaca kenyataan. Ia tidak lagi semata-mata
merujuk pada perang, tetapi menjadi tanda dari kekuasaan yang hadir di sekitar kita dan
perlahan kehilangan jaraknya sebagai sesuatu yang asing. Terlebih ketika militerisme dapat
hadir melalui bentuk yang lebih ramah, estetis, bahkan menghibur, sehingga keberadaannya
menjadi lebih mudah diterima dalam keseharian.
Karya ini kemudian berada di antara beberapa batas yang semakin samar: antara sesuatu
yang mengancam dan sesuatu yang dianggap biasa, antara perlindungan dan kontrol.
Melalui ketegangan tersebut, saya mempertanyakan bagaimana sesuatu yang membawa
ingatan tentang kekuasaan dapat perlahan menjadi akrab ketika ia hadir dalam bentuk yang
tidak lagi terlihat mengancam.
kekerasan dan perang dengan gagasan cinta dan kedamaian. Pertemuan tersebut menjadi
titik awal untuk melihat kembali hubungan antara kekuasaan dan kehidupan dalam konteks
Indonesia hari ini.
Berawal dari kegelisahan terhadap semakin dekatnya militerisme dengan kehidupan sehari-
hari. Ia tidak lagi hanya hadir sebagai sesuatu yang berada di luar ruang sipil, tetapi perlahan
menjadi bagian dari lanskap keseharian.
Dalam membaca keadaan tersebut, saya melihat kembali Love Tank karya S. Teddy
Darmawan. Tank dalam karya S. Teddy menjadi sebuah citra yang kuat bagi saya—sebuah
bentuk yang membawa ingatan tentang perang, kekuasaan, dan kekerasan, namun
dihadirkan melalui bahasa visual yang dekat dengan cinta dan keindahan. Citra tersebut
kemudian saya pinjam, bukan untuk mengulang makna Love Tank, melainkan untuk
membawanya ke dalam pengalaman dan kenyataan yang saya rasakan hari ini.
Tank menjadi bahasa pinjaman untuk membaca kenyataan. Ia tidak lagi semata-mata
merujuk pada perang, tetapi menjadi tanda dari kekuasaan yang hadir di sekitar kita dan
perlahan kehilangan jaraknya sebagai sesuatu yang asing. Terlebih ketika militerisme dapat
hadir melalui bentuk yang lebih ramah, estetis, bahkan menghibur, sehingga keberadaannya
menjadi lebih mudah diterima dalam keseharian.
Karya ini kemudian berada di antara beberapa batas yang semakin samar: antara sesuatu
yang mengancam dan sesuatu yang dianggap biasa, antara perlindungan dan kontrol.
Melalui ketegangan tersebut, saya mempertanyakan bagaimana sesuatu yang membawa
ingatan tentang kekuasaan dapat perlahan menjadi akrab ketika ia hadir dalam bentuk yang
tidak lagi terlihat mengancam.