Ferial Afiff
Daun Emas Deli 1 / Deli's Golden Leaf 1, 2026
Drawing on paper
41 x 31 cm
'''Karya ini berisi 3 kertas bertumpuk, sebagai hasil penelitian lapangan saya (2021-2025) untuk VanAbbe Museum di Eindhoven, Belanda. Paling depan adalah pointilist daun tembakau realis menggunakan tinta emas, dimana pada...
"""Karya ini berisi 3 kertas bertumpuk, sebagai hasil penelitian lapangan saya (2021-2025) untuk VanAbbe Museum di Eindhoven, Belanda.
Paling depan adalah pointilist daun tembakau realis menggunakan tinta emas, dimana pada masa kolonial (1860-1958) terkenal sebagai tembakau terbaik dunia, itulah mengapa dia terkenal sebagai daun emas dari Deli (Sumatra Utara).
Layer tengah menggunakan tinta merah, adalah garis-garis penanda peta kavling perkebunan milik 8 perusahaan kolonial Belanda tahun 1928, luasnya saat itu diperkirakan 260.000 hektar; dengan penanda wilayah Medan yang bercetak tebal besar kanan (secara abstrak seperti bunga), dan wilayah Binjai kiri. Sistem pertanahan kala itu kebanyakan kontrak, atau dengan pembayaran upeti terhadap kerajaan-kerajaan Melayu. [FYI: Sumatra Utara adalah pionir perkebunan industri dunia, kini dominasi Sawit]
Layer belakang menggunakan tinta silver, adalah pernyataan para keturunan kuli kontrak yang saya parafase dari tiga kisah yang miris, dan cukup mendalam. Tujuan utama saya dikirim untuk menggali ke lapangan kisah resitensi dari para keturunan Jawa yang sampai kini masih tinggal, menyebar, menetap, terputus garis keluarga, dan menjadi warga di wilayah Kabupaten Deli Serdang. Sebagian besar warga usia produktif diculik ke Deli untuk menjadi kuli, perkiraan pada 1928 terdapat 230,000 orang Jawa tersebar bekerja sebagai kuli. Indonesia belum ada, sebagaian besar kerajaan Melayu hanya boneka, hukum berlaku bebas, masing-masing wilayah punya hukum sendiri, negara di dalam negara.
Teks pada kertas (layer 3) yang saya parafase: ..mereka mengirim orang-orang dari banyak kampung naik kapal, ibuku salah satunya. saat kami akhirnya kembali ke JAWA menelusuri jejak kelahiran ibu, barulah kami tau, semua kesirep, mereka di CULIK. adik ibu tidak terbawa karena tersadar saat payudaranya sakit bengkak penuh susu. dia tersadar & kaget! kenapa dia ada di atas KAPAL? bayinya mana? akhirnya dia berhasil LARI!.. ...sampai kini kami masih hidup dalam keterasingan walau kota Medan hanya seham dari sini. KEBUN SEPERTI NEGARA DI DALAM NEGARA! ada pemimpinnya sendiri, ada mata uang sendiri, ada hukum sendiri. dahulu lebih kejam, tuan BELANDA pernah menghukum KULI perempuannya, ditelanjangi, di ikat & di jemur, kemaluannya di kasi sambal, katanya dia mencuri, tapi tidak ada yang tau KEBENARANNYA.. ...hasil kebun sini terkenal sebagai DAUN EMAS di ekspor ke seluruh negri, upah kami cukup besar, namun selalu habis untuk berjudi, hiburan ada banyak dalam kebun, TUAN SEDIAKAN.
Mengapa kisah tersebut paling belakang, karena tidak pernah populer, suara para kuli kontrak dari Jawa ini selalu terkubur. Kisah paling termasyhur adalah Daun Emas Deli, dimana berbagai pihak di Medan hingga kini masih bangga.
"""
Paling depan adalah pointilist daun tembakau realis menggunakan tinta emas, dimana pada masa kolonial (1860-1958) terkenal sebagai tembakau terbaik dunia, itulah mengapa dia terkenal sebagai daun emas dari Deli (Sumatra Utara).
Layer tengah menggunakan tinta merah, adalah garis-garis penanda peta kavling perkebunan milik 8 perusahaan kolonial Belanda tahun 1928, luasnya saat itu diperkirakan 260.000 hektar; dengan penanda wilayah Medan yang bercetak tebal besar kanan (secara abstrak seperti bunga), dan wilayah Binjai kiri. Sistem pertanahan kala itu kebanyakan kontrak, atau dengan pembayaran upeti terhadap kerajaan-kerajaan Melayu. [FYI: Sumatra Utara adalah pionir perkebunan industri dunia, kini dominasi Sawit]
Layer belakang menggunakan tinta silver, adalah pernyataan para keturunan kuli kontrak yang saya parafase dari tiga kisah yang miris, dan cukup mendalam. Tujuan utama saya dikirim untuk menggali ke lapangan kisah resitensi dari para keturunan Jawa yang sampai kini masih tinggal, menyebar, menetap, terputus garis keluarga, dan menjadi warga di wilayah Kabupaten Deli Serdang. Sebagian besar warga usia produktif diculik ke Deli untuk menjadi kuli, perkiraan pada 1928 terdapat 230,000 orang Jawa tersebar bekerja sebagai kuli. Indonesia belum ada, sebagaian besar kerajaan Melayu hanya boneka, hukum berlaku bebas, masing-masing wilayah punya hukum sendiri, negara di dalam negara.
Teks pada kertas (layer 3) yang saya parafase: ..mereka mengirim orang-orang dari banyak kampung naik kapal, ibuku salah satunya. saat kami akhirnya kembali ke JAWA menelusuri jejak kelahiran ibu, barulah kami tau, semua kesirep, mereka di CULIK. adik ibu tidak terbawa karena tersadar saat payudaranya sakit bengkak penuh susu. dia tersadar & kaget! kenapa dia ada di atas KAPAL? bayinya mana? akhirnya dia berhasil LARI!.. ...sampai kini kami masih hidup dalam keterasingan walau kota Medan hanya seham dari sini. KEBUN SEPERTI NEGARA DI DALAM NEGARA! ada pemimpinnya sendiri, ada mata uang sendiri, ada hukum sendiri. dahulu lebih kejam, tuan BELANDA pernah menghukum KULI perempuannya, ditelanjangi, di ikat & di jemur, kemaluannya di kasi sambal, katanya dia mencuri, tapi tidak ada yang tau KEBENARANNYA.. ...hasil kebun sini terkenal sebagai DAUN EMAS di ekspor ke seluruh negri, upah kami cukup besar, namun selalu habis untuk berjudi, hiburan ada banyak dalam kebun, TUAN SEDIAKAN.
Mengapa kisah tersebut paling belakang, karena tidak pernah populer, suara para kuli kontrak dari Jawa ini selalu terkubur. Kisah paling termasyhur adalah Daun Emas Deli, dimana berbagai pihak di Medan hingga kini masih bangga.
"""