Wimo Ambala Bayang
The Messengers of Chaos and Order, 2022
Archival Inkjet Print on Photo Paper, Mounting on Foamboard
40 x 60 cm
Edition 1 of 3
'Dipamerkan dalam proyek seni 900MDPL dengan tema Genealogy of Ghosts and How to Live with Them. Karya ini berangkat dari Kali Boyong, sungai yang terletak di antara Bukit Turgo dan...
"Dipamerkan dalam proyek seni 900MDPL dengan tema Genealogy of Ghosts and How to Live with Them. Karya ini berangkat dari Kali Boyong, sungai yang terletak di antara Bukit Turgo dan Plawangan dan dipercaya sebagai pintu gerbang Keraton Merapi. Kali Boyong juga merupakan jalur pasir dan material vulkanik yang dilalui lahar ketika Gunung Merapi mengalami erupsi.
Bagi masyarakat yang tinggal di lereng Merapi, Kali Boyong dipercaya sebagai semacam jalan tol yang menghubungkan Keraton Merapi, Keraton Yogyakarta, dan Keraton Pantai Selatan. Para utusan dari masing-masing keraton dipercaya saling mengunjungi dengan menunggang kuda dan kereta. (Manusia Jawa dan Gunung Merapi, Lucas Sasongko, Gadjah Mada University Press, 1991).
Kuda Lumping atau Jathilan merupakan seni pertunjukan di mana para penari mengalami trance atau kesurupan dan melakukan berbagai kekacauan, hingga kemudian disadarkan kembali oleh pawang melalui mantra atau doa. Setelah para penari kembali sadar, keadaan kembali tertib, aman, dan terkendali.
Siklus tersebut mengingatkan pada sifat alam dan bagaimana semesta menjaga keseimbangannya melalui proses kehancuran dan pemulihan. Namun, manusia modern sebagai bagian kecil dari ekosistem justru menjadi semakin dominan dan turut mengganggu keseimbangan tersebut.
Penambangan batu dan pasir dari material erupsi Gunung Merapi secara masif telah mendukung berbagai pembangunan di Indonesia, tetapi sebagian besar aktivitas tersebut berlangsung secara ilegal.
Exhibited as part of the 900MDPL art project, this edition carries the theme Genealogy of Ghosts and How to Live with Them. The work begins with the Boyong River, located between Turgo and Plawangan Hills and believed to be a gateway to the Merapi Palace. The Boyong River also serves as a channel for sand and volcanic material carried by lahars during Mount Merapi’s eruptions.
For communities living on the slopes of Merapi, the Boyong River is believed to function as a kind of toll road connecting the Merapi Palace, the Yogyakarta Palace, and the South Coast Palace. Envoys from these palaces were believed to travel between them on horseback and by carriage. (Javanese Man and Mount Merapi, Lucas Sasongko, Gadjah Mada University Press, 1991).
Kuda Lumping, or Jathilan, is a traditional performance in which dancers enter a trance or become possessed, causing various disturbances before eventually being brought back to consciousness by a shaman through mantras or prayers. Once the dancers regain consciousness, order, safety, and control are restored.
This cycle reflects the nature of the natural world and how the universe maintains its balance through processes of destruction and recovery. Yet modern humans, as only a small part of this ecosystem, have become increasingly dominant and, in doing so, have disrupted that balance.
The massive extraction of stone and sand from Mount Merapi’s volcanic deposits has contributed to development across Indonesia, yet much of this mining activity is illegal."
Bagi masyarakat yang tinggal di lereng Merapi, Kali Boyong dipercaya sebagai semacam jalan tol yang menghubungkan Keraton Merapi, Keraton Yogyakarta, dan Keraton Pantai Selatan. Para utusan dari masing-masing keraton dipercaya saling mengunjungi dengan menunggang kuda dan kereta. (Manusia Jawa dan Gunung Merapi, Lucas Sasongko, Gadjah Mada University Press, 1991).
Kuda Lumping atau Jathilan merupakan seni pertunjukan di mana para penari mengalami trance atau kesurupan dan melakukan berbagai kekacauan, hingga kemudian disadarkan kembali oleh pawang melalui mantra atau doa. Setelah para penari kembali sadar, keadaan kembali tertib, aman, dan terkendali.
Siklus tersebut mengingatkan pada sifat alam dan bagaimana semesta menjaga keseimbangannya melalui proses kehancuran dan pemulihan. Namun, manusia modern sebagai bagian kecil dari ekosistem justru menjadi semakin dominan dan turut mengganggu keseimbangan tersebut.
Penambangan batu dan pasir dari material erupsi Gunung Merapi secara masif telah mendukung berbagai pembangunan di Indonesia, tetapi sebagian besar aktivitas tersebut berlangsung secara ilegal.
Exhibited as part of the 900MDPL art project, this edition carries the theme Genealogy of Ghosts and How to Live with Them. The work begins with the Boyong River, located between Turgo and Plawangan Hills and believed to be a gateway to the Merapi Palace. The Boyong River also serves as a channel for sand and volcanic material carried by lahars during Mount Merapi’s eruptions.
For communities living on the slopes of Merapi, the Boyong River is believed to function as a kind of toll road connecting the Merapi Palace, the Yogyakarta Palace, and the South Coast Palace. Envoys from these palaces were believed to travel between them on horseback and by carriage. (Javanese Man and Mount Merapi, Lucas Sasongko, Gadjah Mada University Press, 1991).
Kuda Lumping, or Jathilan, is a traditional performance in which dancers enter a trance or become possessed, causing various disturbances before eventually being brought back to consciousness by a shaman through mantras or prayers. Once the dancers regain consciousness, order, safety, and control are restored.
This cycle reflects the nature of the natural world and how the universe maintains its balance through processes of destruction and recovery. Yet modern humans, as only a small part of this ecosystem, have become increasingly dominant and, in doing so, have disrupted that balance.
The massive extraction of stone and sand from Mount Merapi’s volcanic deposits has contributed to development across Indonesia, yet much of this mining activity is illegal."